Memahami Dampak Depresiasi Uang Rupiah Terhadap UKM

informasi dan berita

Jalur Utama Efek dan Akibat Depresiasi atau Pelemahan Rupiah Terhadap UKM.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika memang mulai menguat. Namun, isu depresiasi atau pelemahan rupiah dan dampakya terhadap usaha atau bisnis mikro, kecil dan menengah (UMKM) masih relevan didiskusikan.
Apakah melemahnya/devaluasi nilai tukar rupiah berdampak buruk bagi UMKM di Indonesia? Memang dalam beberapa bulan terakhir, seperti pada masa krisis keuangan Asia 1997 dan 1998 dan krisis keuangan global 2008 dan 2009, banyak berita di media masa mengenai kesulitan yang dihadapi sejumlah pengusaha, termasuk pengusaha kecil.
Dampak depresiasi rupiah terhadap UMKM secara teori bisa positif dan negatif. Dampaknya akan melewati lima jalur utama, yakni:
Jalur Ekspor:
Depresiasi rupiah membuat tingkat daya saing harga produk UMKM meningkat, dan ceteris paribus ekspor UMKM meningkat, namun persentase kenaikannya tergantung pada elastisitas harga dalam dolar As atau mata uang asing lainnya dari negara pengimpor (misalnya Jepang Yen, Cina Yuan dan mata uang Eropa Euro) permintaan di negara tujuan. Jadi, dampaknya positif.
Jalur Impor:
Bahan baku: depresiasi rupiah membuat harga bahan baku impor dalam rupiah meningkat, dan ceteris paribus impor bahan baku UMKM menurun yang selanjutnya membuat volume produksi UMKM menurun atau bahkan bisa mengakibatkan UMKM tutup usaha tergantung pada paling tidak dua kondisi, yakni seberapa penting bahan baku impor tersebut, dan peluang yang dimiliki oleh UMKM untuk melakukan penyesuaian. Misalnya melakukan subsitusi dengan bahan baku lokal atau mengurangi porsi bahan baku impor di dalam produknya. Jadi, dampaknya negative.
Jalur pasar domestik: Ada tiga sub jalur. Pertama, impor barang-barang jadi berkurang, karena harganya dalam rupiah menjadi mahal sehingga permintaan domestik berkurang. Hal ini memberi peluang pasar domestik lebih luas bagi UMKM yang bisa membuat barang serupa. Jadi, dampaknya positif. Kedua, usaha besar yang berorientasi pada pasar dalam negeri dan yang selama ini juga merupakan pesaing kuat UMKM, mengurangi produksinya atau bahkan menghentikan kegiatannya akibat biaya impor bahan baku terlalu mahal, memberikan peluang besar bagi UMKM untuk menambah pasokannya ke pasar dalam negeri. Jadi, dampaknya positif. Ketiga, akibat banyak usaha besar melakukan PHK, jumlah pengangguran bertambah, dan ini berdampak negatif terhadap UMKM karena permintaan di pasar dalam negeri, terutama dari golongan berpendapatan rendah terhadap produk-produk murah buatan UMKM berkurang.
Jalur pasar tenaga kerja: akibat banyak pekerja di-PHK di sektor usaha besar, banyak dari mereka mencari pekerjaan di UMKM atau membuka usaha sendiri, yang secara total menambah jumlah UMKM atau volume produksi di UMKM.
Jalur subkontrak: apabila banyak usaha besar yang mengurangi volume produksi atau bahkan menghentikan kegiatan produksi mereka akibat dampak dari depresiasi rupiah, usaha besar yang selama ini melakukan kemitraan lewat sistem subkontrak dengan UMKM untuk membuat komponen atau barang setengah jadi, maka volume produksi di UMKM sebagai subkontraktor juga akan berkurang atau bahkan produksi UMKM yang sepenuhnya tergantung pada pesanan dari usaha besar juga akan ikut gulung tikar. Jadi, dampaknya negatif.
Hingga saat ini, memang belum ada data resmi soal berapa jumlah UMKM yang mengurangi produksi atau bahkan tutup usaha, dan beberapa jumlah UMKM yang ekspornya meningkat akibat melemahnya nilai tukar rupiah. Namun jika melihat pada data nasional mengenai produksi UMKM di industri pengolahan dari Badan Pusat Statistik (BPS), rasanya tidak ada krisis. Pertumbuhan produksi UMKM rata-rata per tahun hingga triwulan pertama 2015 tidak menunjukkan adanya suatu tren menurun.