Tren Pekerja Ekspatriat di Indonesia

informasi dan berita

Tren Pekerja Ekspatriat di Indonesia

Seiring perjalanan waktu, ada penurunan dalam penggunaan karyawan ekspatriat di posisi kunci perusahaan multinasional di Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari beberapa majalah bisnis sejak 2010, saat pertama kali saya (Ricky Mulani) memulai menjalankan perusahaan. Alasannya, karyawan lokal sekarang memiliki kemampuan yang dapat bersaing dengan karyawan ekspatriat. Memiliki keahlian yang sama dengan biaya yang menarik, maka lebih banyak perusahaan merekrut dan mengganti ekspatriat senior mereka di Indonesia. Perusahaan-perusahaan multinasional yang menggunakan ekspatriat di tim manajemen senior menurun dari 80 persen menjadi 20 persen saja. Posisi direktur utama dan direktur keuangan masih ditangani seorang karyawan ekspatriat. Sementara posisi lain, seperti penjualan, pemasaran, produksi, pemasok, informasi dan teknologi, dan manajemen risiko bisa ditangani eksekutif lokal. Kualitas karyawan Indonesia berkembang dari pengalaman mereka bekerja di perusahaan multinasional, baik di dalam negeri maupun luar negeri, kemudian dengan gelar yang mereka peroleh dari Universitas internasional. Menyadari keahlian tenaga kerja dalam negeri yang sekarang cukup kompetitif, dan biaya yang lebih rendah dibandingkan ekspatriat, perusahaan akhirnya memutuskan memberikan peluang mereka bekerja. Hal ini memberikan gaji yang menarik untuk eksekutif lokal, karena keahlian mereka bertambah dan gaji mereka pun bertambah. Di beberapa kasus, satu-satunya perbedaan gaji direktur lokal dan gaji ekspatriat hanya pada perumahan, izin kerja, asuransi internasional, dan biaya sekolah anak. Tapi, gaji mereka dan tambahan lainnya telah disamakan dengan orang-orang ekspatriat. Namun, kita masih banyak melihat ekspatriat senior yang bekerja di Indonesia. Kita tak melihat penurunan jumlah ekspatriat yang signifikan di Indonesia. Mengapa?
Perusahaan multinasional memang mengurangi jumlah ekspatriat di organisasi perusahaan mereka, namun para konglomerat lokal justru membuat jumlah mereka meningkat. Para ekspatriat, saat ini disewa dan dicari korporasi lokal yang membutuhkan keahlian mereka untuk membantu perkembangan perusahaan. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, hanya perbedaan beberapa tambahan (tunjangan) untuk membandingkan ekspatriat dengan lokal, perusahaan lokal lalu berpikir untuk membayar ekspatriat dan mendapatkan pengetahuan mereka daripada membayar tinggi ahli lokal. Pola pikir mengurangi biaya oleh perusahaan multinasional sudah diambil dengan cara yang berbeda oleh konglomerat lokal dan korporat. Mereka melihatnya sebagai sebuah investasi untuk bersaing di pasar global. Ironis, tapi bermanfaat untuk semua, dan mengurangi banyak pengangguran. Meski ada banyak perubahan yang diharapkan oleh tenaga kerja ekspatriat ketika mereka memutuskan untuk bergabung dengan seluk beluk dan permasalahan yang ada, selama mereka melihat ini sebagai peluang emas dan tantangan bersedia berkontribusi, mereka akhirnya melihat hasil yang baik dan “ditahan” oleh “majikan” mereka, bahkan diberikan kesempatan yang lebih baik. Jadi, pertanyaan sekarang berubah. Siapa yang benar-benar kehilangan kesempatan kerja di Indonesia? Penduduk lokal atau pekerja asing?
Tulisan Bapak Ricky Mulani, Presiden Direktur Quantum Select Indonesia.