Kripto Anjlok, Raup Peluang Saham Amerika

Kripto Anjlok, Raup Peluang Saham Amerika.

Minggu lalu, asset Kripto mengalami gonjang-ganjing, dengan coin unggulan mereka, Bitcoin (#BTC) turun ke level terendah multi tahun di $15,690. Rontokkan mata uang Kripto dipicu oleh aksi jual masif investor setelah Binance, bursa global terbesar berdasarkan volume, membatalkan rencana untuk mengakusisi FTX Sam Bankman-Fried setelah proses due diligence dan laporan terbaru tentang dana pelanggan yang salah penanganan dan dugaan investigasi oleh agen AS terhadap FTX.
Drama Binance-FTX telah menciptakan fenomena fear uncertainty doubt (FUD) yang membuat investor khawatir untuk akumulasi dan membuat harga jatuh. Bukan hanya BTC, coin kripto lainnya, yaitu Ethereum (ETH) juga jatuh ke level terendah sejak 15 Juli 2022 di harga $1,210

Rontoknya BTC dan rekan-rekannya tersebut mengingatkan kembali investor akan peristiwa runtuhnya ekosistem Terra Luna, yang anjlok mendekati nilai nol pada bulan Mei 2022. Kejatuhan BTC sekaligus membuat kapitalisasi pasar menyusut dibawah $1 triliun dan volume perdagangan turun lebih dari 10% di berbagai exchange. Dampak dari runtuhnya FTX dapat menghapus 50% nilai dari pasar cryptocurrency, menurut JPMorgan. Anjloknya mata uang kripto ini justru terjadi disaat USD sedang dalam trend koreksi turun ditengah meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan memperlambat laju kenaikan suku bunganya. Ekspektasi tersebut semakin meningkat setelah data minggu lalu menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat mengalami perlambatan. CPI bulan Oktober melandai menjadi 7,7% dibandingkan bulan September yang sebesar 8,2%. Pelemahan USD seharusnya menjadi sentimen positif bagi mata uang kripto, yang dihargakan dengan USD. Selain itu, pelemahan USD telah meningkatkan risk-on di seluruh pasar, yang juga seharusnya menjadi katalis yang bisa mendorong mata uang kripto.

Disaat mata uang kripto tumbang, asset beresiko lainnya, yaitu saham, justru mulai terlihat bangkit, menyambut data inflasi Amerika Serikat yang mulai mendingin. Setelah angka CPI dirilis lebih rendah dari perkiraan minggu lalu, giliran Indeks Harga Produsen (PPI) AS juga menunjukkan angka yang melandai. PPI hanya naik 0,2% di Oktober, lebih rendah dari perkiraan 0,4%. Sementara angka PPI untuk September juga direvisi turun 0,2% tidak 0,4% seperti yang dirilis sebelumnya. Sementara PPI tahunan berada di 6,7%, juga lebih rendah dari bulan September yang direvisi turun 7,1% dan dibawah perkiraan 7,2%. Melandainya angka inflasi Amerika Serikat tersebut semakin mendukung pandangan bahwa The Fed akan mulai melambatkan siklus kenaikan suku bunganya pada rapat-rapat mendatang. Kondisi tersebut telah meningkatkan minat beli terhadap asset berisiko secara luas di pasar keuangan. Tiga indeks utama Wall Street semakin menjauh dari level terendahnya tahunan. Indeks Dow Jones sudah naik sekitar 18% dari level terendah tahun ini, S&P, sementara Nasdaq masih mencatatkan penguatan tipis 2%. Selain sentimen dari melandainya angka inflasi, bursa saham kemungkinan juga masih akan diuntungkan oleh fenomena-fenomena yang biasa terjadi, seperti Window Dressing, Santa Claus rally, hingga January Effect.